MADIUN (Lentera) -Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono meminta pemerintah menambah penyertaan modal negara (PMN) untuk PT Industri Kereta Api (INKA). Dukungan modal dinilai penting untuk memperkuat kapasitas produksi industri kereta api nasional.
“INKA ini industri yang sangat strategis sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah,” kata Bambang saat berkunjung ke pabrik INKA di Madiun, Jumat, (6/3/2026).
Menurut Bambang, INKA merupakan satu-satunya industri manufaktur kereta api di Asia Tenggara. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat perusahaan tersebut melalui kebijakan yang mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya produksi.
Ia juga mendorong pemerintah kembali memberikan dukungan melalui penyertaan modal negara agar kapasitas produksi INKA semakin kuat. Dukungan tersebut dinilai penting agar industri kereta api nasional mampu berkembang dan menjadi kebanggaan Indonesia.
Selain itu, Bambang menilai PT INKA tidak perlu digabung dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Menurutnya, kedua perusahaan memiliki fungsi berbeda dalam industri perkeretaapian.
“INKA produsen kereta, sedangkan KAI operator. Jadi sebaiknya tetap berdiri sendiri,” ujarnya.
Menurut Bambang, pemisahan peran antara produsen dan operator justru dapat menciptakan mekanisme evaluasi yang lebih baik. Jika digabung, dikhawatirkan ruang kritik dan masukan dalam pengembangan industri kereta api akan berkurang.
Ia juga mengingatkan agar kebutuhan kereta dan lokomotif di dalam negeri dapat dipenuhi oleh industri nasional. Menurut dia, INKA telah memiliki kemampuan memproduksi sarana perkeretaapian sesuai standar operasional yang dibutuhkan KAI.
Karena itu, Bambang berharap KAI memprioritaskan produk dalam negeri dibandingkan membeli dari luar negeri.
“Kalau industri nasional diberi kesempatan melalui pemesanan, tentu kemampuan produksinya akan terus berkembang,” katanya.
Ia menambahkan kebutuhan sarana perkeretaapian diperkirakan terus meningkat seiring pengembangan jaringan transportasi, termasuk pembangunan jalur Trans Sumatera. Dengan jaringan yang terus berkembang, kebutuhan angkutan logistik maupun penumpang juga akan meningkat.
“Transportasi publik massal seperti kereta api sangat dibutuhkan untuk mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu, PT INKA saat ini tengah mengerjakan proyek pengadaan 612 kereta penumpang pesanan PT Kereta Api Indonesia senilai sekitar Rp 5,8 triliun. Proyek tersebut ditargetkan rampung pada 2026.
Direktur Pengembangan PT INKA Roppiq Lutzhfi Azhar mengatakan proyek tersebut telah dimulai sejak 2023. Hingga kini perusahaan telah mengirimkan 37 rangkaian kereta atau trainset kepada KAI.
“Sampai saat ini kami sudah mengirim 37 trainset. Satu trainset terdiri dari 11 kereta dan sebagian sudah mulai beroperasi sejak 2023,” kata Roppiq.
Ia menyebut desain kereta generasi baru tersebut telah final. Namun, perusahaan masih menghadapi tantangan pada rantai pasok bahan dan komponen produksi akibat kondisi geopolitik global.
“Dengan kondisi geopolitik seperti sekarang, beberapa rantai pasok menjadi terganggu,” ujarnya.
Reporter: Wiwiet Eko Prasetyo|Editor: Arifin BH





.jpg)
