07 March 2026

Get In Touch

Kebutuhan BBM Nelayan Pujiharjo Tembus 12 Ribu Liter per Hari, SPBN Jadi Kebutuhan Mendesak

Bangunan shelter pendaratan ikan dan docking kapal di Kampung Nelayan Merah Putih Pujiharjo, Kabupaten Malang. (dok. Prokopim Kab Malang).
Bangunan shelter pendaratan ikan dan docking kapal di Kampung Nelayan Merah Putih Pujiharjo, Kabupaten Malang. (dok. Prokopim Kab Malang).

MALANG (Lentera) - Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nelayan di Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, mencapai 12 ribu liter per hari saat musim tangkap. Data tersebut menguatkan urgensi pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) setempat. Untuk menunjang operasional armada nelayan di selatan Kabupaten Malang. 

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, menyebutkan jumlah perahu nelayan di Desa Pujiharjo pada tahun 2026 ini tercatat sebanyak 300 unit. Ratusan kapal tersebut aktif melaut, terutama saat musim tangkap ikan.

"Setiap kapal rata-rata membutuhkan 40 liter BBM per hari pada musim tangkap. Berarti ada sekitar 12 ribu liter dalam satu hari yang harus tercukupi," ujarnya, dikutip pada Jumat (6/3/2026).

Victor menjelaskan, dalam kunjungan kerja Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono pada Rabu (4/3/2026), pemerintah pusat telah berkomitmen untuk merealisasikan pembangunan SPBN di Desa Pujiharjo. Komitmen tersebut menjadi angin segar bagi nelayan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses bahan bakar.

Ditambahkannya, apabila SPBN dengan kapasitas tangki 8.000 liter dapat direalisasikan, suplai tersebut dinilai cukup untuk menopang kebutuhan harian nelayan, khususnya saat musim tangkap sedang tinggi. "Berarti nanti sudah mencukupi untuk operasional satu hari," tegasnya.

Selama ini, lanjut Victor, nelayan Pujiharjo harus membeli BBM hingga ke Kecamatan Dampit dengan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan. Kondisi tersebut dinilai tidak efisien. Karena menyita waktu dan biaya tambahan yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk aktivitas melaut.

"Distribusi bahan bakar yang tidak berada di lokasi pendaratan ikan berpotensi menghambat aktivitas nelayan, terutama ketika musim tangkap sedang tinggi," katanya.

Selain persoalan BBM nelayan, Dinas Perikanan juga menyoroti masalah sedimentasi di area tambatan kapal KNMP Pujiharjo. Pendangkalan perairan disebut menjadi kendala serius karena menghambat akses keluar-masuk kapal dari laut menuju area sandar.

Victor menjelaskan, pengerukan sedimentasi tidak hanya bertujuan memperlancar akses kapal, tetapi juga meminimalkan risiko kerusakan armada. "Karena kapal tidak lagi ditambatkan di pasir seperti sebelumnya, kondisinya akan jauh lebih awet kalau disandarkan di air," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono telah menyatakan akan menindaklanjuti 3 persoalan utama yang dihadapi nelayan KNMP Desa Pujiharjo, yakni pembangunan SPBN, penanganan sedimentasi, dan penguatan akses jalan.

"Saya pertama kali datang ke sini enam bulan yang lalu dan sekarang Kampung Nelayan di sini sudah jadi. Mudah-mudahan tidak sampai enam bulan tiga hal tadi bisa terealisasi," kata Trenggono.

Ia menambahkan, pihaknya telah meminta Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk melakukan pengerukan sedimentasi. Guna memperlancar arus keluar masuk kapal di area tambatan KNMP Pujiharjo.

Terkait penguatan akses jalan, Trenggono mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan akan mendorong dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Sebagai informasi, saat ini kawasan Kampung Nelayan Merah Putih Desa Pujiharjo telah dilengkapi sejumlah infrastruktur utama dan siap dioperasionalkan. Fasilitas tersebut meliputi pabrik es batu portabel, kios perbekalan, kantor pengelola, shelter pendaratan ikan, docking kapal, serta bengkel nelayan. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.