MALANG (Lentera) - Belajar dari kemajuan Singapura yang minim sumber daya alam, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, menegaskan kunci menjadi negara maju terletak pada kualitas sumber daya manusia yang unggul dan bergizi cukup.
"Lihat Singapura, tidak punya tambak, ternak, apa lagi sawah. Tetapi di sana gaji guru Rp50 juta. Negaranya maju, karena orangnya produktif dan pintar, karena gizinya cukup," ujarnya, dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Malang, Selasa (24/2/2026).
Zulhas, sapaan akrab Menko Pangan ini menegaskan, kemajuan bangsa bertumpu pada kecerdasan dan produktivitas rakyatnya. Karena itu, pemenuhan gizi anak sejak dini menjadi faktor kunci dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak Indonesia. Program ini, menurutnya, merupakan kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto guna memastikan generasi muda mendapatkan asupan gizi yang cukup.
"Makanya Pak Presiden mengharuskan memberikan makan ke anak-anak Indonesia. Makan Bergizi Gratis ini sangat kita perlukan karena menyangkut gizi anak-anak kita. Negara bisa maju kalau anak-anak makannya bergizi, gizinya cukup," katanya.
Zulhas menjelaskan, kekurangan gizi pada anak berpotensi menimbulkan stunting yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan dan kecerdasan. Karena itu, intervensi melalui program MBG dinilai penting agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh sempurna dan memiliki daya saing di masa depan.
"Kalau gizinya tidak cukup, anak-anak bisa stunting. Bapak Presiden punya kebijakan memberi makan anak kita melalui program MBG biar gizinya cukup, tumbuh sempurna, dan cerdas," terangnya.
Lebih lanjut, Zulhas menekankan keberhasilan program MBG juga harus ditopang oleh ketahanan dan swasembada pangan nasional. Ketergantungan terhadap impor, menurutnya, dapat menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri.
Dalam hal ini, Zulhas memaparkan, Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas pangan strategis, seperti gula sebanyak dan gandum. Bahkan pada 2024 lalu, impor beras sempat mencapai 4 juta ton.
"Untuk itu, kita harus swasembada pangan. Kalau tidak begitu kita bisa impor semua," katanya.
Namun, Zulhas menyebut saat ini impor beras tidak lagi dilakukan karena langkah cepat yang diambil jajaran Kementerian Pertanian dalam memperkuat produksi dalam negeri. (*)
Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi





.jpg)
