SURABAYA (Lentera) — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Timur hingga pertengahan Februari 2026 menunjukkan progres yang sangat signifikan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengatakan menyerapan sudah mencapai Rp4,1 triliun atau mendekati 90 persen.
Dadan dalam rapat koordinasi penyelenggaraan MBG di Kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya, Kamis (19/2/2026), menyampaikan bahwa anggaran tersebut digunakan untuk menjangkau lebih dari 8 juta anak sekolah yang menjadi sasaran program.
Dia mengatakan capaian serapan anggaran itu telah mendekati 90 persen dari total target penerima manfaat. "Ini menunjukkan progres yang sangat signifikan dalam pelaksanaan program di Jawa Timur,” ujar Dadan.
Dadan merinci, dari total Rp4,1 triliun yang telah direalisasikan, sekitar 20 persen dialokasikan untuk biaya operasional. Pos ini mencakup pembayaran relawan yang terlibat dalam distribusi dan pengawasan makanan di sekolah-sekolah.
Sementara itu, sekitar 10 persen anggaran digunakan sebagai bentuk pengembalian atau dukungan bagi pihak-pihak yang membangun serta menyiapkan fasilitas pendukung pelaksanaan MBG, seperti dapur produksi dan sarana distribusi.
Dia mengatakan bahwa program sebesar ini tentu membutuhkan ekosistem pendukung yang kuat. Karena itu, lanjutnya, dukungan terhadap fasilitas dan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam struktur pembiayaan.
Dadan juga menandaskan bahwa capaian tersebut tidak lepas dari sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Koordinasi intensif dilakukan bersama perangkat daerah, satuan pendidikan, serta mitra penyedia pangan untuk memastikan distribusi berjalan tepat waktu dan tepat sasaran.
BGN juga menekankan pentingnya pengawasan mutu. Selain fokus pada serapan anggaran, lembaga tersebut secara berkala melakukan monitoring terhadap kualitas gizi, kelayakan distribusi makanan, serta kepatuhan terhadap Standar Layanan Kesehatan Sekolah (SLHS).
Evaluasi dilakukan berjenjang guna memastikan program berjalan transparan, akuntabel, serta benar-benar memberi dampak pada peningkatan status gizi peserta didik.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa penguatan kualitas menjadi fokus utama dalam pelaksanaan program.
“Di sini makanya SLHS salah satu ikhtiar kita untuk menjaga kualitas agar anak-anak didik penerima manfaat bisa mendapatkan makanan yang baik. Tadi langsung Ibu Wakil Kepala BGN sendiri yang menyampaikan bahwa upaya untuk menjaga kualitas terus ditingkatkan,” kata Emil.
Ia menambahkan, metode dan teknik pengawasan kualitas terus dimantapkan seiring berjalannya program.
“Dan sebenarnya metode dan teknik untuk menjaga kualitas ini makin hari makin termantapkan ya dengan adanya pembelajaran-pembelajaran dari kasus-kasus yang sebelumnya,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat pengawasan sekaligus mempercepat realisasi program agar target 100 persen penerima manfaat segera tercapai.
Dengan capaian hampir 90 persen dalam dua bulan pertama tahun 2026, Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan progres implementasi MBG tercepat secara nasional. Pemerintah berharap, keberhasilan ini bukan hanya terlihat dari angka serapan anggaran, tetapi juga dari peningkatan kesehatan dan konsentrasi belajar anak-anak sekolah di seluruh penjuru provinsi. (*)
Reporter : Lutfi
Editor : Lutfiyu Handi




.jpg)
