14 February 2026

Get In Touch

Jaga Kesehatan Otak, Lakukan Kebiasaan Pagi Ini

Jaga Kesehatan Otak, Lakukan Kebiasaan Pagi Ini

SURABAYA ( LENTERA ) - Cara seseorang mengawali pagi hari ternyata memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan otak dalam jangka panjang. Sebagian orang mungkin terbiasa langsung menggulir media sosial sambil sarapan, sementara yang lain memilih bergerak aktif meski hanya sebentar. Pilihan-pilihan sederhana ini, bila dilakukan secara konsisten, dapat berdampak pada ketajaman daya ingat, fokus, hingga kewaspadaan seiring bertambahnya usia.

Penurunan fungsi kognitif ringan memang dianggap wajar sebagai bagian dari proses penuaan. Namun, para ahli menilai bahwa rutinitas harian yang mendukung kerja otak dan tubuh dapat membantu menjaga kejernihan mental tetap optimal.

“Kejernihan mental bukan hanya tentang teka-teki atau suplemen, tetapi dimulai dari rutinitas sehari-hari yang mendukung otak dan tubuh,” tutur direktur WeNatal Nutrition, Lisa Dreher, dikutip dari Good Housekeeping.

Senada dengan itu, ahli biologi manusia sekaligus pendiri The Ultimate Human, Gary Brecka, menegaskan bahwa kebiasaan pagi hari memegang peran krusial. Menurutnya, apa yang dilakukan seseorang di awal hari akan memengaruhi banyak aspek lain, mulai dari kualitas tidur, metabolisme, hingga keseimbangan hormon.Berikut sejumlah kebiasaan pagi yang dinilai para ahli dapat membantu menjaga otak tetap prima.

Minum air putih setelah bangun tidur 
Kebiasaan minum air menjadi langkah awal yang sederhana namun penting. Asupan cairan membantu tubuh dan otak kembali bekerja secara optimal setelah berjam-jam beristirahat. “Kekurangan cairan ringan saja sudah dapat memengaruhi suasana hati, perhatian, dan daya ingat. Asupan air di pagi hari juga membantu mengurangi 'kabut otak' serta mendukung fungsi kognitif yang lebih tajam,” tutur Brecka.

Paparan sinar matahari 
Menikmati paparan sinar matahari pagi dalam 10-30 menit pertama setelah bangun tidur menjadi tips lain . Paparan sinar matahari berperan besar dalam menyelaraskan ritme sirkadian. “Cahaya matahari di pagi hari menambatkan ritme sirkadianmu, meningkatkan serotonin, dopamin, dan mempersiapkan otak untuk kewaspadaan sepanjang hari,” ujar Brecka.

Melakukan gerakan ringan
Gerakan ringan saat pagi seperti berjalan santai, peregangan, atau latihan mobilitas singkat juga dianjurkan. Aktivitas ini membantu melancarkan aliran darah ke otak. “Gerakan ringan di pagi hari dapat meningkatkan memori kerja dan pengaturan suasana hati,” kata Dreher. Dengan demikian, manfaat olahraga pagi tidak hanya dirasakan oleh tubuh, tetapi juga performa kognitif.

Makan makanan yang tinggi protein
Dari sisi asupan sarapan tinggi protein dinilai penting untuk menjaga kestabilan energi dan fokus. Protein menyediakan asam amino yang dibutuhkan untuk membentuk neurotransmitter.
“Protein penting untuk fokus, motivasi, dan stabilitas suasana hati. Ini juga mencegah penurunan energi di pertengahan pagi yang dapat membuatmu merasa 'berkabut',” terang Dreher.

Melakukan meditasi 
Para ahli juga menyoroti manfaat meditasi, journaling, atau melatih rasa syukur di pagi hari. Praktik ini membantu mengelola stres dan emosi sejak awal. “Kesadaran (mindfulness) secara harfiah mengubah kimia otakmu, yang dapat meningkatkan dopamin dan serotonin,” ucap Brecka. Kebiasaan ini dinilai mendukung pengambilan keputusan dan kestabilan emosi sepanjang hari.

Latihan pernapasan
Tak kalah penting, latihan pernapasan terkontrol dapat membantu menenangkan sistem saraf sekaligus meningkatkan suplai oksigen ke otak. Brecka menjelaskan, pernapasan dalam mengoksigenasi otak dan mengatur kortisol, sehingga menciptakan apa yang disebut dengan "ketenangan yang waspada". Kondisi ini membuat tubuh tetap tenang tanpa kehilangan fokus.

Mandi air dingin
Beberapa orang juga memilih paparan suhu dingin, seperti mandi air dingin, sebagai stimulan pagi. Menurut Brecka, kebiasaan ini dapat membantu mengurangi peradangan, meningkatkan kewaspadaan, dan memperbaiki kejernihan mental.

Berinteraksi dengan lingkungan sekitar
Di sisi sosial, interaksi langsung di pagi hari, misalnya mengobrol dengan pasangan atau orangtua tanpa gangguan layer dinilai lebih bermanfaat bagi otak dibanding langsung terpapar gawai. “Bukti terkuat untuk mengurangi penurunan kognitif berasal dari keterlibatan sosial. Interaksi tatap muka di pagi hari mengaktifkan jaringan saraf yang tidak dapat direplikasi oleh waktu layar,” tutur Brecka. 

Sebaliknya, para ahli menyarankan untuk menghindari paparan stresor sejak pagi, termasuk berita atau informasi yang memicu kecemasan. Apa yang pertama kali dikonsumsi otak diyakini memengaruhi kondisi mental sepanjang hari. “Aktivasi pusat ketakutan otak di pagi hari dapat membuat lebih sulit untuk fokus, tetap tenang, dan mengatur emosimu," kata Dreher.

Dengan membangun kebiasaan pagi yang lebih sadar dan sehat, para ahli menilai seseorang dapat memberi fondasi kuat bagi kesehatan otak, sekaligus meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. (Inna– UINSA berkontribusi dalam tulisan ini)
 

Share:
Lenterasemarang.com.
Lenterasemarang.com.