PALANGKA RAYA (Lentera) – Masih ditemukannya harga Minyakita yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) jelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah, mendorong Perum Bulog Wilayah Kalimantan Tengah melakukan intervensi pasar.
Terkait permasalahan ini, Kepala Kantor Bulog Wilayah Kalteng, Budi Sultika mengatakan dari hasil peninjauan lapangan bersama tim gabungan, menemukan Minyakita dijual di kisaran Rp16.800 hingga Rp18.000 per liter, jauh di atas HET yang ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter.
“Dari hasil peninjauan ke lapangan, minyak goreng yang dijual di atas HET tersebut bukan berasal dari distribusi BUMN,” papar Budi, Senin (9/10/2026).
Tujuan dilakukannya intervensi pasar, adalah untuk menahan laju kenaikan harga dan menjaga stabilitas kebutuhan pokok masyarakat.
Budi melanjutkan, sebagai bentuk intervensi Bulog Kalteng telah melakukan pemesanan Minyakita sebanyak 1,9 juta liter dari tiga pabrik besar. Dari pasokan ini nanti akan didistribusikan ke seluruh wilayah Kalimantan Tengah hingga akhir Februari 2026.
"Nantinya setelah pasokan Bulog masuk ke pasar, diharapkan harga Minyakita bisa kembali normal sesuai dengan ketentuan,” ucapnya.
Budi menambahkan, target dari distribusi ini adalah untuk menekan harga Minyakita di pasaran dalam beberapa minggu ke depan, sekaligus memastikan ketersediaan minyak goreng tetap aman selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri nanti.
Ini merupakan tindak lanjut atas mandat pemerintah kepada BUMN untuk aktif menjaga stabilitas harga minyak goreng. Mandat tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025, yang mengatur kewajiban pendistribusian 35 persen dari total kuota Domestic Market Obligation (DMO) Minyakita.
"Kami akan memastikan pengawasan distribusi terus dilakukan agar minyak goreng bersubsidi benar-benar tepat sasaran dan sampai ke masyarakat sesuai HET," pungkasnya.
Reporter: Novita/Editor: Ais





.jpg)
