Mahasiswa Untag Surabaya Ciptakan Mesin Pemisah dan Pengering Gabah, Kering dalam 10 Menit
SURABAYA (Lentera)– Mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Nur Ahmad Justine Ivana berhasil menciptakan inovasi mesin pemisah dan pengering gabah padi, yang dirancang untuk membantu petani menghadapi kendala saat musim hujan.
Alat tersebut mampu memisahkan padi dari sekam, sekaligus mengeringkan gabah dalam waktu relatif singkat tanpa bergantung pada sinar matahari.
Ahmad mengatakan, mesin tersebut dirancang sebagai solusi atas keluhan petani yang kesulitan mengeringkan gabah saat curah hujan tinggi.
“Alat ini merupakan mesin pemisah padi dan sekam sekaligus pemanas. Dari kondisi basah, gabah bisa langsung kering kurang lebih dalam waktu 10 menit, sehingga petani bisa langsung menjual hasil panennya,” kata Ahmad, Senin (9/2/2026).
Ia menjelaskan, proses kerja mesin dimulai dari memasukkan pada ke dalam corong yang dilengkapi blower. Blower berfungsi memisahkan padi dari sekam.
Selanjutnya, sekam akan terbuang sementara gabah diarahkan masuk ke ruang pemanas atau heater. Di ruang tersebut, gabah dipanaskan layaknya proses pengovenan hingga mencapai kondisi kering.
“Untuk kapasitas saat ini masih sekitar dua kilogram. Namun ke depan, kapasitas bisa ditingkatkan dengan melakukan pengembangan dan peningkatan spesifikasi mesin,” jelasnya.
Menurut Ahmad, mesin ini dibuat dengan memanfaatkan material daur ulang. Proses perakitan memakan waktu sekitar satu bulan, meski secara teknis dapat diselesaikan lebih cepat apabila seluruh material tersedia sejak awal.
"Ke depan, akan kita kembangkan lagi agar bisa lebih bermanfaat dan kapasitasnya lebih besar," tuturnya.
Sementara itu, dosen pembimbing, Lutfie Agung Swargi menyampaikan inovasi tersebut sejalan dengan visi universitas dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pengembangan teknologi terapan.
“Tujuan kami sama seperti yang disampaikan Pak Rektor, yakni berkontribusi pada ketahanan pangan. Karena itu, kami mendorong mahasiswa untuk berinovasi di bidang pertanian, termasuk alat pengering gabah padi ini,” ujarnya.
Agung menambahkan, pengembangan alat tersebut masih berada pada tahap awal dan membutuhkan penyempurnaan agar dapat digunakan secara luas oleh masyarakat. Meski demikian, arah pengembangannya dinilai selaras dengan kebutuhan sektor pertanian nasional.
“Beberapa wilayah seperti Mojokerto, Trawas, hingga Pacet memiliki permasalahan pengeringan gabah sebelum digiling. Alat ini diharapkan menjadi solusi karena tidak lagi bergantung pada sinar matahari,” tambahnya.
Ke depam, pihak kampus siap memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan inovasi mahasiswa agar teknologi yang dihasilkan dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya para petani.
Reporter: Amanah/Editor: Ais




.jpg)
