SURABAYA ( LENTERA ) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan organisasi eksplorasi laut global OceanX menuntaskan misi penelitian laut dalam bertajuk OCEANX–BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 – Mission Leg 2. Misi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat riset kelautan nasional berbasis kolaborasi internasional dan teknologi mutakhir.
Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, menjelaskan bahwa leg kedua ekspedisi tersebut berlangsung pada 5–24 Januari 2026. Penelitian difokuskan pada kajian biodiversitas laut, oseanografi, pengamatan laut, serta fish aggregating device (FAD) atau rumpon.
“Fokusnya pada biodiversitas atau keanekaragaman hayati, oseanografi, pengamatan laut, serta fish aggregating device (FAD) atau yang lebih dikenal sebagai rumpon,” ujar Nugroho, dikutip dari laman resmi BRIN.
Ia menegaskan kemandirian eksplorasi laut nasional hanya dapat dicapai melalui penguatan ekosistem kapal riset secara berkelanjutan, mencakup armada, sumber daya manusia, hingga pendanaan. Komitmen tersebut tercermin pada tahap akhir misi Leg 2 yang masih berlayar di perairan utara Sulawesi Utara menuju Pelabuhan Bitung hingga 24 Januari 2026.
Selama ekspedisi berlangsung, tim peneliti berhasil mengidentifikasi 14 spesies megafauna laut. ROV Program Lead OceanX, Andrew Craig, melaporkan bahwa temuan tersebut terdiri atas 10 spesies mamalia laut, dua spesies hiu, dan dua spesies penyu.
Peneliti mamalia laut dari Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Sekar Mira, mengungkapkan bahwa sejumlah mamalia laut teridentifikasi melalui pengamatan udara menggunakan helikopter kapal riset, di antaranya paus sperma dan paus berparuh.
“Bahkan kami menjumpai Indopacetus pacificus atau paus paruh Longman yang, jika terkonfirmasi, akan menjadi catatan baru dalam daftar biodiversitas perairan Indonesia,” ujar Sekar.
Selain observasi visual, penelitian juga memanfaatkan teknologi environmental DNA (eDNA) metabarcoding. Metode ini memungkinkan peneliti mendeteksi keberadaan megafauna laut melalui jejak genetik yang terdapat di air tanpa harus melakukan kontak langsung dengan satwa.
“Kita seperti berburu paus tanpa membunuh paus—whaling without harpoon. Harapannya, kita bisa mempelajari distribusinya, tidak hanya secara horizontal tetapi juga vertikal,” kata Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Andhika Prima Prasetyo.
Ekspedisi ini didukung oleh dua kapal selam berawak, yakni Nadir dan Neptune. Peneliti Indo Ocean Foundation, Ilham, menjelaskan bahwa Nadir difokuskan untuk dokumentasi visual dan media, sementara Neptune digunakan untuk kepentingan penelitian ilmiah.
Kapal selam Nadir merekam struktur komunitas biota di gunung bawah laut Sulawesi Utara menggunakan metode video transect. Sementara itu, Neptune dilengkapi dengan Niskin bottle untuk pengambilan sampel air, lengan robotik untuk pengambilan biota, serta bio box guna menjaga kondisi spesimen selama proses analisis di laboratorium kapal.
Lead Scientist ekspedisi sekaligus Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Pipit Pitriana, menilai ekspedisi ini memperkaya basis data biodiversitas perairan Sulawesi Utara. Data tersebut dinilai penting sebagai landasan ilmiah dalam penyusunan rekomendasi kebijakan konservasi laut.
Wakil Kepala BRIN, Amarulla Oktavian, turut mengapresiasi pelaksanaan ekspedisi ini. Ia berharap fasilitas dan teknologi yang digunakan OceanX dapat menjadi referensi dalam pengembangan kapal riset BRIN ke depan.
“Saya berharap seluruh hasil penelitian terdokumentasi dengan baik dan seluruh sampel disimpan di repositori ilmiah nasional sesuai ketentuan. Ke depan, kita akan melanjutkan penelitian ini menggunakan kapal riset kita sendiri dengan peralatan standar yang tidak kalah canggih,” tegas Amarulla. (Itqiyah_UINSA yang berkontribusi dalam tulisan ini)





.jpg)
