SIDOARJO (Lentera) -Suasana kafe Fave Hotel Sidoarjo Jumat malam (16/1/2026) sangat riuh. Terdapat percampuran bunyi alat yang dimainkan. Sekilas, ini tampak seperti kerumunan anak muda biasa. Namun, jika dilihat lebih dekat, sosok-sosok di sana adalah para penggerak industri musik di Sidoarjo. Mulai dari pemain bass senior hingga pemain gitar junior.
Acara bertajuk "SDA Jamming Night" ini membuktikan bahwa bagi para musisi, nongkrong bukan sekadar membuang waktu, melainkan sebuah ritual sakral untuk menjaga nyala api kreativitas.
Mr Paul Goodman, koordinator dari kegiatan ini mengatakan, "Event ini menghubungkan musisi lintas generasi, dan memberikan nuansa yang baru di Sidoarjo"
Hal yang paling menarik dari pertemuan ini adalah hilangnya batasan antara generasi. Tidak ada lagi istilah "junior harus sungkan pada senior." Kala seorang drummer terlihat asyik berdiskusi dengan gitaris tentang membangun harmonisasi yang indah.
"Di panggung, kami profesional, tapi di sini kami adalah manusia. Kami butuh tempat untuk 'curhat' tentang panggung yang tidak dipahami orang luar," lanjutnya lagi.
Alih-alih berkompetisi secara tidak sehat, para musisi ini justru membangun support system. Fellowship ini menjadi wadah untuk membagi akses koneksi, informasi tentang hak cipta, hingga cara mengulik lagu yang indah
Dalam industri kreatif yang bergerak sangat cepat, rasa kesepian sering kali menghantui para pekerja seni. Pertemuan semacam ini menjadi pengingat bahwa mereka adalah bagian dari sebuah komunitas besar. Musik mungkin adalah produknya, namun hubungan manusia (fellowship) adalah akarnya (*)
Penulis: Hardi|Editor: Arifin BH




.jpg)
